Tampilkan postingan dengan label Tips Mengajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips Mengajar. Tampilkan semua postingan

Tekhnik Memotivasi Siswa

Diposting oleh Unknown on Minggu, 10 Februari 2013

motivasi siswa

 

Bagaimana Guru Memotivasi Siswa


Memotivasi siswa adalah tugas berat bagi para guru. Setelah siswa mencapai usia tertentu, mereka tidak lagi merasa perlu untuk bersekolah, apalagi menikmatinya. Tanpa motivasi, proses KBM akan berjalan datar dan monoton. Lalu, bagaimana upaya Anda saat ini untuk memotivasi siswa?

Tekhnik memotivasi siswa


Kelas di mana Anda berada harus menjadi pengalaman yang menyenangkan untuk para siswa. Motivasi siswa akan mustahil muncul jika kelas Anda tidak memiliki suasana yang menyenangkan.
Bagaimana sikap Anda? Apakah Anda senang mengajar? Senang bahwa Anda berada di sana? Senang melihat para siswa? Tertarik tentang subjek atau kelas? Anda harus hangat, menarik, dan antusias tentang pekerjaan Anda. Anda harus muncul setiap hari dengan persiapan yang baik.
Apa kelas Anda terasa hening? seperti penjara? ruang kosong? Kelas Anda membutuhkan warna dan kegembiraan. Pasanglah tulisan-tulisan yang memotivasi. Pajang karya siswa. Anda perlu untuk memprovokasi siswa segera setelah mereka menginjakkan kaki di kelas Anda.
Membuat kelas menjadi tempat yang menyenangkan untuk belajar sebenarnya nyaris seperti sebuah pertempuran.
Siswa termotivasi dengan penghargaan. Siswa membutuhkan hadiah untuk belajar. Bukan hadiah uang atau permen tentunya. Itu mungkin efektif untuk menjadikan tugas siswa cepat selesai, tetapi tidak memotivasi untuk belajar nyata. Ingat, yang diharapkan adalah ingin memotivasi siswa dalam belajar, bukan sekedar menyelesaikan tugas.

Siswa memerlukan alasan untuk melakukan tugas. Beri mereka satu. Setiap guru harus datang dengan ini pada mereka sendiri. Jangan ada bantuan diberikan karena jika Anda tidak bisa memikirkan alasan untuk mengajarkan sesuatu, Anda tidak bisa memotivasi siswa.
Berikut adalah beberapa petunjuk bagaimana hal itu mempengaruhi mereka. Apakah itu membuat mereka menjadi manusia yanglebih baik? Pembelajar? Menghubungkannya dengan kehidupan mereka. Menghubungkannya dengan masa depan mereka. Menghubungkannya dengan ego mereka. Mengaitkannya dengan peristiwa saat ini. Anda tidak bisa hanya mengatakan, "karena."

Pujian juga efektif dan perlu dilakukan. Ini adalah hadiah yang Anda dapat berikan berkali-kali dan gratis. Menulis catatan pada kertas mereka. Katakanlah hal kepada mereka saat Anda berjalan di sekitar ruangan. Panggil orang dengan nama dan mendorong mereka. Masukan karya siswa di dinding. Taruh sepotong karya dari SEMUA siswa di berbagai kesempatan. Menelepon ke rumah dan memuji siswa pada orang tua mereka.

Jika siswa Anda memiliki alasan untuk mempelajari materi dan mendapatkan pujian dari Anda, itu benar-benar menjadi motivasi yang mereka butuhkan. Kedengarannya sederhana, tapi sulit. Pilih pembukaan Anda ke pelajaran sedemikian rupa sehingga membuat siswa ingin tahu lebih banyak. Mungkin terdengar konyol, tapi cerita bisa menjadi cara yang sangat efektif. Setelah siswa Anda ingin tahu lebih banyak, Anda telah membuat mereka ketagihan. Mereka termotivasi! Anda ingin siswa Anda pulang setiap hari dan berkata, "Tebak apa yang saya pelajari?"

Untuk memotivasi siswa, pertama adalah motivasilah Anda dan kelas Anda. Selanjutnya akan muncul alasan untuk belajar. Anda kemudian akan dapat membuat rasa ingin tahu tentang materi yang akan disampaikan.
More aboutTekhnik Memotivasi Siswa

Tips dan Trik Pembelajaran yang Menyenangkan

Diposting oleh Unknown on Sabtu, 01 Desember 2012


Sebelum menjelaskan tips dan trik untuk membuat kegiatan belajar mengajar menjadi efektif dan menyenangkan maka terlebih dahulu perlu dipahami apa itu gaya belajar. Dalam belajar, setiap orang mempunyai gayanya masing-masing.

Gaya belajar seseorang adalah cara ia memahami dan memproses informasi baru, memperoleh pengalaman belajar baru, dan/atau memecahkan suatu masalah.

Seorang guru yang efektif dalam memberdayakan siswanya dalam belajar adalah seorang motivator, pakar, dan sekaligus pelatih, serta tahu kapan ia harus membiarkan siswanya belajar sendiri.
Maka, agar kegiatan belajar itu menjadi menyenangkan dan lebih menarik, terlebih dahulu guru haruslah menyenangi materinya, mempunyai semangat atau antusiasme yang tinggi dalam pembelajaran, dan meluangkan waktu yang cukup untuk menyiapkan pembelajaran. Lebih-lebih untuk pelajaran matematika yang sudah terlanjur dianggap sulit dan menjadi momok; perlu dirancang strategi pembelajaran matematika yang efektif dan sistematis.
Seorang guru yang baik tidak hanya mengajar, tetapi menginspirasi siswanya.
Tidak hanya bertanya apa dan bagaimana, tetapi juga menggali mengapa dan bagaimana jika. 
Bukan hanya memberikan materi pelajaran, tetapi juga menumbuhkan minat dan kemampuan untuk belajar. Ia juga mengajarkan siswa untuk menghargai pengetahuan, dan bagaimana memainkan peran dalam pembangunan manusia dan pemahaman tentang kehidupan pada umumnya.
More aboutTips dan Trik Pembelajaran yang Menyenangkan

Strategi Pemecahan Masalah Matematika

Diposting oleh Unknown on Sabtu, 20 Oktober 2012

Pengertian Masalah 

Ada lima tujuan pembelajaran matematika di SMA-MA (Depdiknas, 2006) yang harus dicapai para siswa SMA-MA selama proses pembelajaran matematika, yaitu: 
  1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah; 
  2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika; 
  3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh; 
  4. Menkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah; 
  5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. 
Sebelum membahas masalah dan pemecahan masalah, perhatikan contoh berikut: 


Bilangan 15 dapat dinyatakan sebagai jumlah dua atau lebih bilangan asli berurutan dalam tiga cara, yaitu:
15 = 1 + 2 + 3 + 4 + 5
15 = 4 + 5 + 6
15 = 7 + 8
Nyatakan bilangan 210 sebagai jumlah dua atau lebih bilangan asli berurutan. Tuliskan dengan sebanyak-banyaknya cara.


Apakah soal tersebut merupakan masalah bagi Anda? 
Selanjutnya perhatikan lagi contoh berikut: 


987654321 x 9 = ... 


Pada contoh yang pertama ada tantangan yang terkandung di dalamnya dan belum diketahui prosedur rutin pemecahannya. Sedangkan untuk contoh soal yang kedua saya yakin bukan menjadi 'masalah' untuk para pembaca. 
Secara umum suatu pertanyaan dikategorikan masalah atau pertanyaan biasa ditentukan oleh ada tidaknya tantangan dan prosedur rutin pemecahan yang belum diketahui. 

Strategi Pemecahan Masalah

Permendiknas No. 22 (Depdiknas, 2006) tentang Standar Isi menyatakan
bahwa tujuan pelajaran matematika SMA agar para siswa dapat:
“Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah,
merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi
yang diperoleh.” 
Dari formulasi di atas, paling tidak ada empat langkah pada proses pemecahan masalah yang harus dikuasai para siswa sehingga harus dilatihkan kepada mereka, yaitu:
  1. Memahami masalah, 
  2. Merancang model matematika, 
  3. Menyelesaikan model, dan 
  4. Menafsirkan solusi yang diperoleh.

More aboutStrategi Pemecahan Masalah Matematika

Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Matematika

Diposting oleh Unknown on Selasa, 04 September 2012

gambar diambil dari sini

Beberapa karakter yang dikembangkan dalam pembelajaran matematika di antaranya adalah:

1) Sikap teliti, cermat, dan hemat

Matematika disebut sebagai ilmu hitung karena pada hakikatnya matematika berkaitan dengan masalah hitung-menghitung. Pengerjaan operasi hitung untuk mencari hasil dilakukan dalam pembelajaran matematika mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Dalam pengerjaan operasi hitung, seseorang dituntut bersikap teliti, cermat, hemat, cepat, dan tepat.

Saat mengerjakan masalah matematika, seseorang sebenarnya dituntut untuk megerjakan dengan teliti dan cermat. Jangan sampai ada pengerjaan yang salah. Langkah demi langkah pengerjaan diteliti dan dicermati. Setelah diperoleh hasilnya, hasil itu perlu dicek lagi apakah sudah menjawab permasalahan atau tidak. Intinya, matematika mengajari seseorang untuk jeli dan berhati-hati dalam melangkah.
Matematika juga melatih sikap hemat, simpel dalam bertindak berbicara, selalu "to the point", dan tidak bertele-tele. Kalimatnya ringkas dan mudah dipahami.
Penggunaan simbol sebagai alat berkomunikasi dalam matematika juga memuat unsur pembelajaran sikap hemat.

2) Sikap jujur,tegas,dan bertanggung jawab

Matematika juga mengajarkan sikap jujur, tegas, dan benar. Tegas pada permasalahan diatas dimaksudkan seperti hasil perkalian bilangan bulat 3 x 4 pasti 12. Kita tegas mengatakan 3 x 4 = 12 adalah benar. Kalau bukan 12, kita tegas mengatakan itu salah.
Matematika juga berkenaan dengan masalah pembuktian. Langkah-langkah dalam pembuktian matematika harus berdasarkan pada hal-hal yang sudah diakui kebenarannya. Langkah demi langkah harus berdasarkan alasan yang kuat dan benar. Dengan cara inilah sebenarnya matematika mengajarkan sikap hidup benar dan bertanggung jawab. Dengan implikasi atau aplikasi dalam kehidupan, kita diajarkan bahwa setiap perkataan, kehendak, dan, perbuatan harus berdasar pada sumber yang benar.

3) Sikap pantang menyerah dan percaya diri

Seperti yang telah dirumuskan dalam pembelajaran matematika, matematika sebenarnya juga mengajarkan untuk bersikap pantang menyerah dan percaya diri.
Saat mengerjakan atau menyelesaikan masalah matematika, kita tidak boleh menyerah. Saat gagal atau tidak dapat menjawab, kita dituntut untuk mencari cara lain untuk menjawab. Kita harus percaya diri bahwa kita bisa. Kita coba terus, sampai akhirnya kita akan dapat menjawabnya. Kegagalan dengan suatu cara tidak boleh mengurangi semangat untuk mencari cara yang lain. Saat keberhasilan tercapai, rasa puas dan bangga akan tumbuh.
More aboutPendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Matematika

Macam-Macam Teori Belajar

Diposting oleh Unknown on Jumat, 03 Agustus 2012


1.     Teori Belajar Menurut Thorndike

Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R ). Bentuk paling dasar dari belajar adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi.

Thorndike menemukan hukum-hukum belajar sebagai berikut :
  1. Hukum Kesiapan (law of readiness), yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat.
  2. Hukum Latihan (law of exercise), yaitu semakin sering tingkah laku diulang/ dilatih (digunakan) , maka asosiasi tersebut akan semakin kuat.
  3. Hukum akibat (law of effect), yaitu hubungan stimulus respon cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah  jika akibatnya tidak memuaskan.

2.     Teori Belajar Menurut Skinner

B.F. Skinner dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning. Operant Conditioning adalah suatu proses perilaku operant (penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan.

Beberapa prinsip Skinner antara lain :
  1. Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika benar diberi penguat.
  2. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
  3. Materi pelajaran, digunakan sistem modul.
  4. Dalam proses pembelajaran, tidak digunkan hukuman. Untuk itu lingkungan perlu diubah, untuk menghindari adanya hukuman.
  5. Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktifitas sendiri.
  6. Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah.
  7. Dalam pembelajaran digunakan shaping.

3.     Teori Belajar Menurut Robert M. Gagne

Gagne membagi proses belajar berlangsung dalam empat fase utama, yaitu
  1. Fase Receiving the stimulus situation (apprehending), merupakan fase seseorang memperhatikan stimulus tertentu kemudian menangkap artinya dan memahami stimulus tersebut untuk kemudian ditafsirkan sendiri dengan berbagai cara.
  2. Fase Stage of Acquition, pada fase ini seseorang akan dapat memperoleh suatu kesanggupan yang belum diperoleh sebelumnya dengan menghubung-hubungkan informasi yang diterima dengan pengetahuan sebelumnya.
  3. Fase storage /retensi adalah fase penyimpanan informasi, ada informasi yang disimpan dalam jangka pendek ada yang dalam jangka panjang, melalui pengulangan informasi dalam memori jangka pendek dapat dipindahkan ke memori jangka panjang.
  4. Fase Retrieval/Recall, adalah fase mengingat kembali atau memanggil kembali informasi yang ada dalam memori.

Kemudian ada fase-fase lain yang dianggap tidak utama, yaitu (5) fase motivasi sebelum pelajaran dimulai guru memberikan motivasi kepada siswa untuk belajar, (6) fase generalisasi adalah  fase transfer informasi, pada situasi-situasi baru, agar lebih meningkatkan daya ingat, siswa dapat diminta mengaplikasikan sesuatu dengan informasi baru tersebut. (7) Fase penampilan adalah fase dimana siswa harus memperlihatkan sesuatu penampilan yang nampak setelah mempelajari sesuatu, seperti mempelajari struktur kalimat dalam bahasa mereka dapat membuat kalimat yang benar, dan (8)  fase umpan balik, siswa harus diberikan umpan balik dari apa yang telah ditampilkan (reinforcement).

4.     Teori Belajar Menurut Bruner

Bruner menyatakan belajar merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal baru di luar informasi yang diberikan kepada dirinya.

Agar pembelajaran dapat mengembangkan keterampilan intelektual anak dalam mempelajari sesuatu pengetahuan (misalnya suatu konsep matematika), maka materi pelajaran perlu disajikan dengan memperhatikan tahap perkembangan kognitif/ pengetahuan anak agar pengetahuan itu dapat diinternalisasi dalam pikiran (struktur kognitif) orang tersebut. Proses internalisasi akan terjadi secara sungguh-sungguh (yang berarti proses belajar terjadi secara optimal) jika pengetahuan yang dipelajari itu dipelajari dalam tiga model tahapan yaitu model tahap enaktif, model ikonik dan model tahap simbolik.
1. Model Tahap Enaktif

Dalam tahap ini penyajian yang dilakukan melalui tindakan anak secara langsung terlibat dalam memanipulasi (mengotak-atik) objek. Pada tahap ini anak belajar sesuatu pengetahuan di mana pengetahuan itu dipelajari secara aktif, dengan menggunakan benda-benda konkret atau menggunakan situasi yang nyata.
2. Model Tahap Ikonik

Tahap ikonik, yaitu suatu tahap pembelajaran sesuatu pengetahuan di mana pengetahuan itu direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual (visual imaginery), gambar, atau diagram, yang menggambarkan kegiatan kongkret atau situasi kongkret yang terdapat pada tahap enaktif.
3. Model Tahap Simbolis

Dalam tahap ini bahasa adalah pola dasar simbolik, anak memanipulasi simbul-simbul atau lambang-lambang objek tertentu. Pada tahap simbolik ini, pembelajaran direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol abstrak (abstract symbols), yaitu simbol-simbol arbiter yang dipakai berdasarkan kesepakatan orang-orang dalam bidang yang bersangkutan, baik simbol-simbol verbal (misalnya huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kalimat), lambang-lambang matematika, maupun lambang-lambang abstrak yang lain.

5.     Teori belajar Menurut Piaget

Dalam pandangan Piaget, terdapat dua proses yang mendasari perkembangan dunia individu, yaitu pengorganisasian dan penyesuaian. Untuk membuat dunia kita diterima oleh pikiran, kita melakukan pengorganisasian pengalaman-pengalaman yang telah terjadi. Piaget yakin bahwa kita menyesuaikan diri dalam dua cara yaitu asimiliasi dan akomodasi.

Asimilasi terjadi ketika individu menggabungkan informasi baru ke dalam pengetahuan mereka yang sudah ada. Sedangkan akomodasi adalah terjadi ketika individu menyesuaikan diri dengan informasi baru.

Piaget mengatakan bahwa kita melampui perkembangan melalui empat tahap dalam memahami dunia, yaitu :
  1. Tahap sensorimotor (Sensorimotor stage), yang terjadi dari lahir hingga usia 2 tahun, merupakan tahap pertama piaget. Pada tahap ini, perkembangan mental ditandai oleh kemajuan yang besar dalam kemampuan bayi untuk mengorganisasikan dan mengkoordinasikan sensasi (seperti melihat dan mendengar) melalui gerakan-gerakan dan tindakan-tindakan fisik.
  2. Tahap praoperasional (preoperational stage), yang terjadi dari usia 2 hingga 7 tahun, merupakan tahap kedua piaget, pada tahap ini anak mulai melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar. Mulai muncul pemikiran egosentrisme, animisme, dan intuitif.
  3. Tahap operasional konkrit (concrete operational stage), yang berlangsung dari usia 7 hingga 11 tahun, merupakan tahap ketiga piaget. Pada tahap ini anak dapat melakukan penalaran logis menggantikan pemikiran intuitif sejauh pemikiran dapat diterapkan ke dalam cotoh-contoh yang spesifik atau konkrit.
  4. Tahap operasional formal (formal operational stage), yang terlihat pada usia 11 hingga 15 tahun, merupakan tahap keempat dan terkahir dari piaget. Pada tahap ini, individu melampaui dunia nyata, pengalaman-pengalaman konkrit dan berpikir secara abstrak dan lebih logis.

Perlu diingat, bahwa pada setiap tahap tidak bisa berpindah ke tahap berikutnya bila tahap sebelumnya belum selesai dan setiap umur tidak bisa menjadi patokan utama seseorang berada pada tahap tertentu karena tergantung dari ciri perkembangan setiap individu yang bersangkutan

6.     Teori Belajar Menurut Ausubel

Menurut Ausubel, Novak,dan Hanesian ada dua jenis belajar:
a.      Belajar bermakna (meaningful learning)

Belajar bermakna adalah suatu proses belajar dimana informasi baru dihubungkan dengan struktur penertian yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar. Belajar bermakna terjadi bila pelajar mencoba menghubungkan fenomena baru dengan konsep yang telah ada sebelumnya.
b.      Belajar menghafal (rote learning)

Bila konsep yang cocok dengan fenomena baru itu belum ada maka informasi baru tersebut harus dipelajari secara menghafal. Belajar menghafal ini perlu bila seseoarang memperoleh informasi baru dalam dunia pengetahuan yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang ia ketahiu sebelumnya.
More aboutMacam-Macam Teori Belajar

Pembelajaran Terintregasi TIK

Diposting oleh Unknown on Selasa, 18 Oktober 2011


Keterampilan memanfaatkan perangkat TIK merupakan salah satu bagian penting dalam daftar kompetensi yang harus dimiliki oleh guru. Bahkan, kompetensi guru dalam memanfaatkan TIK dituangkan dalam ketentuan perundangan mengenai Sistem Pendidikan Nasional (UU No 20 Tahun 2002 tentang Sistem Pendidikan Nasional) yang kemudian dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah tentang Guru.

Kompetensi, dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008 tentang Guru, dimaknai sebagai seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki,dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya. Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.

Pentingnya penguasaan keterampilan TIK tersirat dalam rumusan kemampuan yang harus dimiliki guru, yakni kemampuan dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran (dalam kompetensi pedagogik), kemampuan mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan (kompetensi kepribadian), dan kemampuan menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional (kompetensi sosial).

Aktivitas profesional guru akan sangat terbantu oleh pemanfaatan perangkat lunak dan perangkat keras TIK. Oleh karena itu, keterampilan minimal yang diperlukan guru dapat dijabarkan beberapa kemampuan, yakni:



  • Kemampuan menggunakan perangkat lunak pengolah naskah (wordprocessor), untuk membantu aktivitas tulis-menulis,

  • Kemampuan menggunakan perangkat lunak spreadsheet, untuk membantu aktivitas pengolahan nilai siswa,

  • Kemampuan menggunakan perangkat lunak pengembang slide presentasi, untuk membantu aktivitas melakukan presentasi materi pembelajaran,

  • Kemampuan menggunakan email untuk berkomunikasi maupun bergabung ke dalam kelompok-kelompok diskusi (mailing list)

  • Kemampuan memanfaatkan mesin pencari (search engine) untuk mencari informasi secara efektif dan efisien

*) Gambar diambil dari sini
More aboutPembelajaran Terintregasi TIK

Matematika Itu Mudah

Diposting oleh Unknown on Rabu, 04 Agustus 2010

Matematika itu mudah. Ungkapan ini adalah sebuah cita-cita dari setiap pengajar matematika, namun sulit terwujud. Ada beberapa cara agar mempelajari matematika itu menjadi mudah dan menyenangkan.

1. Ajarkan matematika dengan cinta. Kebanyakan guru langsung emosi ketika siswa tidak bisa menyerap apa yang diajarkan oleh guru. Awalnya tidak bisa, ditambah lagi faktor tekanan dari guru yang bersangkutan menjadikan siswa semakin kacau.

2. Terangkan matematika dengan jelas, singkat dan tepat sasaran. Banyak guru matematika yang senang jika siswanya bingung. Ini masalah besar. Biasanya sang guru ingin dianggap pintar. Ya jelas saja guru pintar dibanding muridnya, jadi tidak perlu lagi kita buat bingung siswa - siswa kita.

3. Jangan beranjak pada bab selanjutnya sebelum siswa kita memahami apa yang diajarkan. Kalau satu bab sudah tidak paham, dan bahasan diteruskan pada bab selanjutnya, akhirnya siswa akan terus terbebani dengan bab-bab yang tidak dia mengerti.

Point ke 1 dan 2 mungkin bisa diterapkan oleh seluruh guru, tapi point ke 3 nampaknya sulit dilakukan, karena biasanya sekolah berpatokan pada kurikulum pemerintah. Maka sesungguhnya membuat matematika itu jadi mudah adalah kerja bersama seluruh elemen pendidikan, bukan hanya guru juga siswa, tapi juga pemegang kebijakan.
More aboutMatematika Itu Mudah